EDITORIAL TENSION | Geothermal Gunung Ungaran: Saatnya Menguji Manfaat, Dampak, dan Implementasi

EDITORIAL TENSION | Geothermal Gunung Ungaran: Saatnya Menguji Manfaat, Dampak, dan Implementasi

 
Rencana dan Kajian di Gunung Ungaran


Tim InfoPublikID Editorial

Ada momentum ketika sebuah isu tidak lagi cukup dibaca sebagai berita.

Pengembangan panas bumi Gunung Ungaran adalah salah satunya.

Perdebatan mulai bergerak ke dua kutub. Di satu sisi, geothermal ditempatkan sebagai bagian dari transisi energi, ketahanan energi, dan pemanfaatan potensi energi terbarukan. Di sisi lain, masyarakat dan kelompok yang kritis mempertanyakan risiko terhadap lingkungan, air, kawasan sekitar, serta kemungkinan dampak sosial yang ditimbulkan.

Kedua posisi itu sah untuk hadir dalam ruang publik.

Tetapi ada satu persoalan yang lebih penting:

Apa yang sebenarnya sudah berjalan, apa yang baru berupa rencana, apa manfaat yang sudah dapat dibuktikan, dan bagaimana risiko serta kewajiban proyek akan dikendalikan?

Di sinilah InfoPublikID memilih mengambil posisi.

Bukan sebagai kubu pro.

Bukan pula sebagai kubu kontra.

Melainkan sebagai pihak yang menguji.

Dari Perdebatan “Pro atau Kontra” ke Uji Publik

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menjelaskan bahwa pengembangan panas bumi Gunung Ungaran dilakukan secara bertahap dan berbasis kajian.

Pemerintah juga menjelaskan bahwa tahap yang berjalan masih berkaitan dengan eksplorasi dan studi kelayakan. Dalam RUPTL 2025–2034, pengembangan Gunung Ungaran tercantum dengan target sekitar 55 MW dan target operasi pada 2031.

Informasi ini penting.

Sebab publik perlu membedakan antara potensi, konsesi atau wilayah kerja, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, dan pembangkit yang benar-benar sudah beroperasi.

Jangan sampai angka kapasitas potensial diperlakukan seolah-olah sama dengan listrik yang sudah mengalir.

Begitu pula sebaliknya.

Kekhawatiran terhadap dampak tidak boleh otomatis diperlakukan sebagai bukti bahwa kerusakan pasti terjadi.

Keduanya membutuhkan pembuktian.

Dan pembuktian itulah yang seharusnya menjadi arena utama.

Uji Pertama: Manfaat

Narasi tentang geothermal biasanya mudah diterima karena membawa kata-kata besar:

energi bersih, energi terbarukan, ketahanan energi, investasi, lapangan kerja, dan ekonomi daerah.
EDITORIAL TENSION

Uji Manfaat, Dampak & Implementasi Geothermal Gunung Ungaran

ASPEK ARGUMENTASI / KLAIM YANG HARUS DIBUKTIKAN STATUS UJI
Potensi Energi Gunung Ungaran memiliki potensi panas bumi untuk mendukung ketahanan energi. Besaran potensi, hasil eksplorasi, kapasitas layak dikembangkan, dan dasar kajiannya. PERLU DIUJI
Target 55 MW Pengembangan tercantum dengan target sekitar 55 MW. Apakah angka tersebut masih target/proyeksi atau sudah didukung hasil eksplorasi dan studi kelayakan. TARGET
Tahap Proyek Pengembangan masih berada pada tahap eksplorasi dan studi kelayakan. Kegiatan yang sudah dilakukan, lokasi, hasil sementara, serta tahapan berikutnya. MONITORING
Manfaat Energi Geothermal menjadi bagian dari transisi energi dan energi terbarukan. Kapan listrik benar-benar dihasilkan, berapa kapasitas aktual, dan siapa penerima manfaatnya. BELUM TERBUKTI PENUH
Ekonomi Lokal Proyek berpotensi menciptakan lapangan kerja dan aktivitas ekonomi. Jumlah tenaga kerja lokal, nilai ekonomi yang masuk ke kawasan, dan program pemberdayaan. PERLU DATA
Lingkungan Risiko lingkungan akan diperhitungkan melalui kajian dan mitigasi. Baseline lingkungan, indikator pemantauan, hasil monitoring, dan mekanisme mitigasi. MONITORING
Air Pengembangan harus memperhatikan keberlanjutan sumber daya air. Data mata air, neraca air, perubahan debit, serta mekanisme perlindungan sumber air. PERLU DIUJI
Sosial Masyarakat Masyarakat dilibatkan dalam proses pengembangan. Bentuk partisipasi, pihak yang dilibatkan, mekanisme keberatan, dan tindak lanjut aspirasi. PERLU BUKTI
Gedong Songo & Kawasan Budaya Aspek budaya dan keselamatan kawasan menjadi bagian dari kajian. Studi risiko, radius perlindungan, rekomendasi teknis, dan mekanisme pengawasan. MONITORING
Pengawasan Risiko proyek berada dalam mekanisme perizinan dan pengawasan pemerintah. Siapa pengawasnya, indikator monitoring, frekuensi pengawasan, dan akses publik terhadap hasil. PERLU DIBUKA
Akuntabilitas Setiap tahapan proyek memiliki pihak yang bertanggung jawab. Rantai kewenangan, pengembang, pengawas, dan mekanisme pengaduan publik. PERLU DIPETAKAN
CATATAN EDITORIAL

Tabel ini bukan untuk menentukan posisi pro atau kontra. Setiap klaim ditempatkan sebagai objek uji berdasarkan data, dokumen, implementasi, dan fakta lapangan.


Semua itu penting.

Namun dalam perspektif kebijakan publik, manfaat harus dapat dibedakan antara potensi manfaat, target manfaat, dan manfaat yang sudah terealisasi.

Jika target Gunung Ungaran sekitar 55 MW dan operasi ditargetkan pada 2031, maka pertanyaan publik bukan apakah angka tersebut menarik.

Pertanyaannya:

Apa manfaat yang sudah dirasakan masyarakat hari ini?

Berapa tenaga kerja lokal yang sudah terserap?

Apa manfaat ekonomi yang sudah masuk ke masyarakat sekitar?

Apa bentuk kontribusi terhadap daerah?

Apakah terdapat program pemberdayaan masyarakat?

Bagaimana mekanisme pembagian manfaat?

Dan jika sebagian besar manfaat baru akan muncul setelah proyek beroperasi, maka publik juga berhak mengetahui siapa yang menanggung biaya dan risiko selama fase eksplorasi menuju pembangunan.

Dengan kata lain:

«Manfaat tidak boleh hanya dihitung dari kapasitas listrik yang direncanakan. Manfaat harus ditelusuri sampai ke penerima manfaatnya.»

Uji Kedua: Dampak

Di sisi lain, kekhawatiran publik juga tidak boleh dipukul rata sebagai penolakan terhadap energi terbarukan.

Pertanyaan mengenai air, lingkungan, tata ruang, keselamatan, sosial masyarakat, hingga kawasan budaya seperti Candi Gedong Songo justru merupakan bagian dari persoalan yang harus dijawab melalui kajian.

Artinya, isu lingkungan bukan gangguan terhadap pembangunan.

Ia adalah bagian dari pembangunan itu sendiri.

Maka pertanyaan yang perlu diajukan bukan:

«“Apakah geothermal pasti merusak lingkungan?”»

Tetapi:

«“Risiko apa yang telah diidentifikasi, bagaimana baseline lingkungannya, bagaimana mitigasinya, dan siapa yang bertanggung jawab jika indikator lingkungan berubah?”»

Pertanyaan tersebut jauh lebih objektif.

Sebab proyek yang benar-benar memiliki tata kelola baik seharusnya tidak alergi terhadap pengukuran.

Uji Ketiga: Implementasi

Di sinilah perdebatan menjadi lebih konkret.

Kita tidak cukup membaca dokumen kebijakan.

Kita harus membandingkannya dengan apa yang terjadi di lapangan.

Setiap klaim harus memiliki jejak.

Klaim → dokumen → kewajiban → pelaksanaan → bukti → hasil.

Jika pemerintah mengatakan aspek lingkungan akan dijaga, maka publik berhak mengetahui indikator pengawasannya.

Jika dikatakan masyarakat dilibatkan, maka perlu dilihat bagaimana mekanisme partisipasinya.

Jika dikatakan ada manfaat ekonomi, maka perlu ditelusuri siapa penerimanya.

Jika dikatakan risiko sudah diperhitungkan, maka publik perlu mengetahui bagaimana risiko tersebut diukur dan dimitigasi.

Inilah yang kami sebut sebagai implementation gap test.

Karena kebijakan publik tidak berhenti ketika keputusan dibuat.

Kebijakan baru benar-benar diuji ketika masuk ke lapangan.

Membaca Trek Argumentasi Kepala ESDM Jawa Tengah

Dalam eskalasi isu Gunung Ungaran, pernyataan pemerintah daerah menjadi salah satu titik penting untuk diuji.

Kepala Dinas ESDM Jawa Tengah Agus Sugiharto menyampaikan bahwa masyarakat tidak perlu panik karena tahap eksplorasi tidak otomatis berarti pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi.

Secara substansi, pernyataan tersebut penting untuk memberi konteks.

Namun sebagai media, kita tidak berhenti pada pernyataan tersebut.

Kita justru mengubahnya menjadi pertanyaan publik:

Jika belum sampai tahap pembangunan, tahap apa yang sedang berjalan?

Apa kegiatan yang telah dilakukan?

Apa hasil sementara eksplorasi?

Apa dokumen yang sudah tersedia?

Apa titik keputusan berikutnya?

Kapan masyarakat dapat mengetahui hasil studi kelayakan?

Dengan begitu, pernyataan pemerintah tidak diperlakukan sebagai benar atau salah secara emosional.

Ia ditempatkan sebagai klaim kebijakan yang dapat diuji.

Inilah perbedaan antara kritik politik dan kritik berbasis data.

Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan Pertanyaan tentang Kewenangan

Isu Gunung Ungaran juga memperlihatkan persoalan lain: rantai kewenangan.

Panas bumi merupakan sektor strategis nasional. Pemerintah pusat memiliki peran penting dalam kebijakan dan pengembangan panas bumi, sementara pemerintah daerah tetap memiliki fungsi dalam aspek tertentu seperti tata ruang, lingkungan, energi daerah, serta hubungan dengan masyarakat.

Karena itu, ketika muncul persoalan, publik perlu mengetahui:

Siapa yang mengambil keputusan?

Siapa yang memberikan izin atau persetujuan?

Siapa yang mengawasi?

Siapa yang menerima laporan?

Dan siapa yang bertanggung jawab ketika terjadi persoalan di lapangan?

Pertanyaan ini bukan untuk mencari kambing hitam.

Justru sebaliknya.

Semakin besar sebuah proyek strategis, semakin jelas pula rantai pertanggungjawabannya harus terlihat.

Pro dan Kontra Sama-Sama Harus Membawa Bukti

Di sinilah InfoPublikID ingin menjaga jarak dari dua ekstrem.

Kelompok pro geothermal tidak cukup hanya mengatakan:

«“Ini energi bersih.”»

Mereka perlu menjelaskan seberapa besar manfaatnya, kapan manfaat itu muncul, siapa penerimanya, dan bagaimana risiko dikelola.

Kelompok kontra juga tidak cukup hanya mengatakan:

«“Ini akan merusak lingkungan.”»

Mereka perlu menunjukkan risiko apa, berdasarkan data apa, baseline-nya bagaimana, dan indikator dampaknya seperti apa.

Dengan demikian, perdebatan berubah.

Bukan lagi:

Pro vs Kontra.

Tetapi:

Klaim vs Bukti.

Dan dalam ruang publik yang sehat, bukti seharusnya mempunyai posisi lebih tinggi daripada volume suara.

Gunung Ungaran Tidak Boleh Hanya Menjadi Pertarungan Narasi

Ada satu alasan mengapa kasus ini penting.

Gunung Ungaran dapat menjadi contoh bagaimana Indonesia mengelola transisi energi ketika kepentingan energi bertemu dengan kepentingan ekologis, sosial, ekonomi, dan budaya.

Jika pengembangan geothermal dapat berjalan dengan kajian yang transparan, perlindungan lingkungan yang terukur, partisipasi masyarakat yang bermakna, serta distribusi manfaat yang jelas, maka itu merupakan model yang patut dipelajari.

Namun jika ditemukan kesenjangan antara dokumen dan pelaksanaan, maka kesenjangan tersebut juga harus dibuka.

Bukan untuk menghentikan pembangunan.

Tetapi untuk memperbaiki tata kelolanya.

Momentum 8 September: Jangan Hanya Menunggu Pernyataan

Rencana DPRD Jawa Tengah untuk meminta penjelasan kepada Kementerian ESDM menjadi momentum penting.

Namun publik sebaiknya tidak hanya menunggu kesimpulan:

“Pemerintah setuju” atau “pemerintah tidak setuju.”

Yang lebih penting adalah apa jawaban konkret terhadap pertanyaan masyarakat.

Apakah status tahapan proyek dijelaskan secara terbuka?

Apakah hasil kajian dapat diakses?

Apakah risiko lingkungan memiliki indikator pengawasan?

Apakah masyarakat memiliki ruang partisipasi yang nyata?

Apakah manfaat ekonomi sudah memiliki desain yang jelas?

Dan yang paling penting:

Siapa melakukan apa, kapan, dan bagaimana publik dapat mengawasinya?

Karena pertemuan politik hanya akan menjadi peristiwa sesaat jika tidak menghasilkan mekanisme pertanggungjawaban yang dapat diperiksa publik.

Editorial Position: Kita Tidak Sedang Memilih Kubu

InfoPublikID tidak sedang mencari kemenangan bagi kelompok pro ataupun kontra.

Kami justru ingin membawa perdebatan Gunung Ungaran ke tempat yang lebih sulit untuk dimainkan oleh siapa pun:

data, dokumen, implementasi, dan kondisi lapangan.

Karena geothermal memang dapat menjadi bagian penting dari transisi energi.

Tetapi energi bersih tidak boleh berarti pertanyaan publik menjadi kotor.

Sebaliknya, kekhawatiran lingkungan juga tidak boleh berubah menjadi kesimpulan tanpa bukti.

Maka mulai dari sini, setiap tahap pengembangan Gunung Ungaran layak diuji dengan tiga pertanyaan sederhana:

MANFAAT

Apa yang benar-benar sudah diterima masyarakat?

DAMPAK

Apa risiko yang benar-benar muncul dan bagaimana mitigasinya?

IMPLEMENTASI

Apakah janji, kewajiban, kajian, dan mekanisme pengawasan benar-benar berjalan?

Dan satu pertanyaan terakhir akan menjadi benang merah editorial ini:

«“Jika semua pihak yakin bahwa proyek ini baik untuk publik, mengapa kita tidak mengujinya secara terbuka?”»

Itulah posisi InfoPublikID.

Bukan anti-geothermal. Bukan pro-geothermal.

Pro-data. Pro-transparansi. Pro-akuntabilitas publik.

Karena pada akhirnya, yang harus menang bukan kubu.

Yang harus menang adalah kepentingan publik.
A. Bintang — InfoPublikID.Online
A. Bintang Redaksi
Chief Editorial Strategist — InfoPublikID.Online
Mengulas kebijakan publik, transparansi pemerintahan, dan isu sosial-pesisir Demak. Berpegang pada verifikasi fakta, keberimbangan informasi, dan asas praduga tak bersalah.
Referensi: Dokumen resmi & sumber terverifikasi. Pedoman Media Siber →
© 2025–2026 InfoPublikID.Online — Media Investigasi & Advokasi Publik.
Dikelola oleh Yayasan Bina Insan Modern. Seluruh hak cipta dilindungi undang-undang.