InfoPublikID.Online | Perspektif Edukasi Publik
Sebuah potongan video yang memperlihatkan Presiden Prabowo Subianto mencicipi keripik kentang yang disebut sebagai hasil olahan atau inovasi terkait riset BRIN menjadi perhatian di media sosial.
Adegan Presiden membuka dan mencicipi makanan ringan tersebut memang sederhana. Namun, di balik adegan yang terlihat ringan itu terdapat pertanyaan yang jauh lebih serius:
Seperti apa sebenarnya ukuran keberhasilan sebuah lembaga riset nasional?
Apakah cukup dengan menghasilkan produk yang bisa diperkenalkan kepada Presiden?
Ataukah keberhasilan riset seharusnya diukur dari sejauh mana hasil penelitian tersebut digunakan masyarakat, meningkatkan produktivitas, memperkuat industri, membantu petani dan UMKM, menghasilkan efisiensi, menciptakan nilai ekonomi, atau menyelesaikan persoalan publik?
Pertanyaan tersebut penting karena Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bukan sekadar lembaga yang membuat produk.
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2021, BRIN mempunyai tugas membantu Presiden dalam penyelenggaraan penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan, invensi serta inovasi secara nasional dan terintegrasi.
Artinya, ekspektasi terhadap lembaga ini memang jauh lebih besar daripada sekadar menghasilkan sebuah produk yang menarik untuk diperkenalkan.
Keripik kentang bukan persoalan.
Produk pangan hasil riset juga bukan sesuatu yang layak diremehkan. Justru riset pangan dapat memiliki nilai ekonomi besar apabila berhasil meningkatkan kualitas produk, memperpanjang umur simpan, meningkatkan efisiensi produksi, memperkuat bahan baku lokal, atau membantu UMKM naik kelas.
Yang perlu menjadi perhatian publik adalah bagaimana hasil riset tersebut diukur, dikembangkan, diterapkan, dan dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
BRIN sendiri menyatakan tujuan strategisnya antara lain menghasilkan temuan, terobosan dan inovasi untuk meningkatkan produktivitas serta daya saing, kualitas lingkungan, ketahanan bencana, dan menghadapi kerentanan iklim.
📚 Baca Juga: Perspektif Kontrol Sosial InfoPublikID
Menilai kinerja lembaga dan program pemerintah tidak cukup dari seremoni atau pernyataan pejabat. Publik perlu melihat data, dokumen, indikator hasil, serta dampak nyata yang dirasakan masyarakat.
Insight InfoPublikID:
Jangan berhenti pada apa yang dipamerkan.
Ukur apa yang benar-benar diterapkan dan apa dampaknya bagi masyarakat.
Fakta Utama
1. BRIN adalah lembaga pemerintah dengan mandat riset dan inovasi nasional
BRIN berada langsung di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden.
Mandatnya mencakup penelitian, pengembangan, pengkajian, penerapan, invensi dan inovasi secara nasional. �
Database Peraturan | JDIH BPK
Jadi, publik wajar apabila memiliki ekspektasi tinggi terhadap hasil kerjanya.
2. Produk pangan dapat menjadi bagian dari hilirisasi riset
Menghasilkan makanan olahan bukan berarti otomatis merupakan pekerjaan yang "tidak layak" bagi lembaga riset.
Sebaliknya, riset pangan dapat mencakup teknologi pengolahan, keamanan pangan, kualitas bahan baku, pengemasan, umur simpan, efisiensi produksi hingga pengembangan produk.
Artinya, keripik bisa saja menjadi ujung dari sebuah proses riset yang panjang.
Yang menjadi persoalan adalah apakah proses tersebut menghasilkan dampak yang dapat dibuktikan.
3. BRIN sendiri memiliki agenda pemanfaatan hasil riset
Dalam publikasi BRIN mengenai ekosistem riset dan inovasi, BRIN dijelaskan memiliki tiga peran besar: mendukung kebijakan, menjalankan fungsi pendanaan riset dan inovasi, serta menjalankan riset dan inovasi melalui organisasi dan pusat risetnya. �
Penerbit BRIN
Dengan demikian, hasil riset idealnya tidak berhenti di laboratorium.
Latar Belakang: Dari Laboratorium ke Meja Makan
Salah satu tantangan terbesar lembaga riset bukan hanya menemukan sesuatu.
Tantangan yang lebih berat adalah membuat temuan tersebut digunakan.
Misalnya sebuah penelitian menghasilkan teknologi pengolahan kentang.
Tahap pertamanya mungkin berhasil:
riset → prototipe → produk.
Tetapi perjalanan sebenarnya masih panjang:
produk → uji → standardisasi → produksi → adopsi industri → pasar → manfaat ekonomi.
Kalau berhenti pada tahap prototipe, maka nilai riset belum maksimal.
Kalau produk hanya dipamerkan kepada pejabat, publik belum bisa mengetahui seberapa besar dampaknya.
Tetapi apabila teknologi tersebut kemudian digunakan puluhan atau ratusan UMKM, meningkatkan nilai jual bahan baku petani, memperpanjang umur simpan produk dan menciptakan lapangan kerja, maka ceritanya menjadi berbeda.
Di situlah riset berubah menjadi inovasi yang memiliki dampak sosial-ekonomi.
Insight InfoPublikID: Jangan Terjebak pada "Output"
Dalam evaluasi kebijakan publik terdapat perbedaan antara output dan outcome.
Contoh sederhana:
Output:
BRIN menghasilkan teknologi pengolahan pangan.
Outcome:
Teknologi tersebut digunakan oleh UMKM dan meningkatkan produktivitas.
Impact:
Pendapatan pelaku usaha meningkat, serapan tenaga kerja bertambah dan rantai ekonomi lokal berkembang.
Inilah cara berpikir yang perlu dibangun masyarakat.
Jangan berhenti pada:
"Sudah menghasilkan apa?"
Naikkan satu level menjadi:
"Sudah digunakan siapa?"
Lalu naikkan lagi:
"Apa perubahan yang terjadi setelah digunakan?"
Dan akhirnya:
"Berapa besar manfaatnya dibandingkan sumber daya yang digunakan?"
Itulah kontrol sosial yang sehat terhadap lembaga negara.
Riset Nasional Harus Terhubung dengan Persoalan Nyata
BRIN sendiri menempatkan peningkatan produktivitas dan daya saing sebagai salah satu tujuan strategisnya. BRIN juga mencantumkan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung kualitas lingkungan, ketahanan bencana dan kerentanan iklim sebagai sasaran strategis. �
BRIN - Badan Riset dan Inovasi Nasional
Karena itu, masyarakat memiliki hak untuk melihat hasil riset dalam konteks yang lebih luas.
Indonesia menghadapi persoalan:
- ketahanan pangan;
- produktivitas pertanian;
- ketergantungan teknologi;
- perubahan iklim;
- bencana;
- kemiskinan;
- kesehatan;
- energi;
- lingkungan;
- industrialisasi;
- daya saing produk lokal.
Pertanyaannya:
Seberapa jauh hasil riset nasional masuk ke persoalan-persoalan tersebut?
Keripik boleh.
Sepatu untuk kebutuhan masyarakat juga boleh.
Teknologi pangan boleh.
Teknologi nuklir boleh.
Kecerdasan buatan juga penting.
Tetapi semuanya harus kembali kepada pertanyaan yang sama:
Apa manfaatnya bagi negara dan masyarakat?
Dasar Hukum
Dasar utama penyelenggaraan BRIN adalah Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2021 tentang Badan Riset dan Inovasi Nasional.
Peraturan tersebut menempatkan BRIN sebagai lembaga pemerintah yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden, dengan mandat nasional di bidang penelitian, pengembangan, pengkajian, penerapan, invensi dan inovasi. �Database Peraturan | JDIH BPK
Selain itu, BRIN sendiri mempublikasikan indikator iptek, riset dan inovasi sebagai bagian dari gambaran mengenai perkembangan riset nasional. Publikasi indikator tersebut mencakup antara lain anggaran dan belanja riset, sumber daya manusia iptek, kinerja serta kontribusi iptek, riset dan inovasi. �Penerbit BRIN
Artinya, pengukuran kinerja riset sebenarnya bukan sesuatu yang mustahil dilakukan.
FAQ
Apakah membuat keripik merupakan tugas BRIN?
Bisa saja menjadi bagian dari kegiatan riset dan inovasi, khususnya apabila berkaitan dengan teknologi pangan, bahan baku, proses produksi, pengemasan, keamanan pangan atau pengembangan produk.
Yang perlu dinilai adalah substansi riset dan dampaknya, bukan nama produknya.
Apakah Presiden mencicipi produk berarti riset tersebut berhasil?
Tidak otomatis.
Momen tersebut menunjukkan adanya kegiatan pengenalan atau demonstrasi produk, tetapi keberhasilan riset perlu dilihat dari indikator yang lebih luas.
Apakah masyarakat boleh mengkritik BRIN?
Tentu.
Sebagai lembaga publik, BRIN dapat menjadi objek pengawasan masyarakat, terutama mengenai efektivitas, transparansi dan manfaat hasil riset.
Apa ukuran sederhana keberhasilan riset?
Setidaknya dapat dilihat dari:
kualitas hasil → pemanfaatan → adopsi → manfaat → dampak.
Apakah kritik terhadap BRIN berarti anti-riset?
Tidak.
Justru kritik yang berbasis data dapat membantu memastikan anggaran dan sumber daya riset menghasilkan manfaat yang lebih besar.
📚 Referensi Resmi
Referensi berikut digunakan untuk memahami kedudukan, tugas, fungsi,
sasaran strategis, serta indikator riset dan inovasi nasional.
Catatan InfoPublikID:
Referensi resmi digunakan sebagai dasar untuk membaca dan menilai
kebijakan serta kinerja riset secara objektif, bukan sekadar berdasarkan
pemberitaan atau seremoni.
✓ Penulis Terverifikasi
A. Bintang
Chief Editorial Strategist • InfoPublikID.Online
Berfokus pada literasi hukum, investigasi kebijakan publik, transparansi pemerintahan, serta isu pesisir Sayung–Demak. Mengedepankan jurnalisme berbasis data, dokumen resmi, verifikasi fakta, serta menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah dalam setiap publikasi.
Media: InfoPublikID.Online
•
Redaksi: Chief Editorial Strategist
Artikel ini disusun berdasarkan regulasi, dokumen resmi, serta sumber yang dapat diverifikasi. Jika terdapat pembaruan informasi atau koreksi, redaksi akan melakukan penyesuaian sesuai
Pedoman Media Siber.
♥ Suka artikelnya? Traktir Kopi
Dukung jurnalisme independen pesisir Sayung–Demak. Setiap apresiasi membantu kami tetap meliput.
Dukungan tidak mempengaruhi independensi redaksi. ·
S&K
📡 Respons Publik & Verifikasi Warga
Komentar pembaca, verifikasi lapangan, dan respons publik terkait krisis pesisir Sayung terdokumentasi secara terbuka.
Lihat Respons Publik →
0 Comments:
Posting Komentar