Oleh INFOPUBLIKID • Oktober 19, 2026
InfoPublikID.Online | Observasi Kebijakan Publik Berbasis Data
Analisis Dampak Kebijakan Ekonomi terhadap Pergerakan IHSG
(Era 4 Presiden, fokus pada perbandingan & kondisi per Oktober 2026)
Data grafik yang beredar di ruang publik relatif konsisten dengan berbagai sumber media, meski angka pastinya sedikit bervariasi tergantung tanggal cut-off. Perbandingan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada dua tahun awal pemerintahan beberapa presiden menunjukkan pola yang berbeda. Di era Megawati dan SBY, indeks bergerak dari basis yang sangat rendah. Era Jokowi mencatat pertumbuhan yang lebih moderat. Sementara di hampir dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, IHSG sempat mencetak rekor historis sebelum mengalami koreksi tajam sepanjang 2026.
Faktor yang Membentuk Performa Masing-masing Era
Megawati & SBY
Kondisi awal pasar sangat rendah. IHSG berada di bawah level 500–1.000. Pemerintahan SBY kemudian menikmati commodity super-cycle yang sangat menguntungkan Indonesia. Reformasi pasca-krisis 1998 turut meningkatkan kepercayaan investor dan mendorong arus modal masuk.
Jokowi
Fokus infrastruktur dan hilirisasi nikel memberikan hasil nyata di sektor riil. Namun pertumbuhan IHSG relatif lebih moderat. Faktor yang menekan antara lain pandemi COVID-19, normalisasi suku bunga global (khususnya kenaikan agresif The Fed pada 2022–2023), serta capital outflow berulang.
Prabowo (hampir 2 tahun)
IHSG sempat sangat kuat sepanjang 2025 hingga awal 2026, bahkan menembus rekor historis. Kemudian terjadi koreksi dalam. Penyebabnya merupakan kombinasi faktor eksternal dan domestik.
A. Faktor Eksternal (paling dominan saat ini)
Capital outflow asing masif, mencapai puluhan hingga lebih dari Rp100 triliun year-to-date 2026.
Penguatan dolar AS disertai suku bunga Amerika Serikat yang masih tinggi.
Lonjakan harga minyak dunia (Brent sempat di atas US$100 per barel) yang menambah tekanan subsidi energi dan defisit APBN.
Eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
Ancaman MSCI (Oktober 2026): Usulan mengubah status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market karena isu transparansi kepemilikan saham, free float, dan dugaan perdagangan terkoordinasi. Pengumuman ini memicu panic selling terbesar sejak krisis 1998. IHSG sempat anjlok 11,57 persen dalam sehari dan sempat memicu trading halt.
B. Kebijakan & Sentimen Domestik
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki anggaran sangat besar, pernah direncanakan mencapai ratusan triliun per tahun. Dampak positifnya mencakup penyerapan tenaga kerja besar (lebih dari 1 juta), dukungan terhadap UMKM dan rantai pasok lokal, serta penurunan beban pengeluaran rumah tangga. Kritik yang muncul berfokus pada biaya tinggi versus manfaat yang masih diperdebatkan, risiko efisiensi dan tata kelola, serta persepsi tambahan beban fiskal.
Danantara sebagai superholding investasi BUMN dirancang sebagai mesin investasi produktif dan hilirisasi. Namun di kalangan investor timbul kekhawatiran soal transparansi dan tata kelola.
Kabinet yang relatif gemuk ditambah program prioritas berskala besar memperkuat persepsi bahwa ruang fiskal semakin sempit. Defisit APBN 2026 diperkirakan mendekati 2,85 persen PDB (mendekati batas 3 persen). Pelemahan rupiah yang mendekati atau melewati Rp18.000 per dolar AS menambah tekanan di pasar keuangan.
Sisi Positif yang Tetap Ada
Meski IHSG mengalami tekanan berat, sektor riil masih menunjukkan ketahanan. Pertumbuhan ekonomi semester I 2026 mencapai 5,45 persen (kuartal II 5,29 persen). Tingkat kemiskinan turun ke 8,07 persen (Maret 2026). Tingkat pengangguran terbuka terus menurun. Investasi tetap tumbuh.
Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa pelemahan IHSG belum sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi riil. Tekanan lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen pasar modal dan aliran modal asing.
Kesimpulan Objektif
Penurunan IHSG di era Prabowo tidak semata-mata akibat satu kebijakan tertentu. Kombinasi tekanan global—terutama usulan MSCI dan capital outflow—menjadi pemicu utama koreksi tajam 2026. Namun program-program besar seperti MBG dan Danantara, serta persepsi risiko fiskal, memperburuk sentimen investor di saat ruang gerak APBN semakin sempit.
IHSG adalah cermin kepercayaan pasar, bukan satu-satunya ukuran keberhasilan ekonomi. Yang dibutuhkan sekarang adalah kejelasan dan transparansi reformasi pasar modal untuk meredakan kekhawatiran MSCI, disiplin fiskal yang lebih kuat, serta komunikasi kebijakan yang lebih baik kepada investor domestik maupun asing.
Publik berhak terus menguji konsistensi antara narasi kebijakan dan data di lapangan. Observasi berbasis data tetap menjadi instrumen kontrol sosial yang relevan.
Catatan Redaksi
Artikel ini disusun berdasarkan data dan informasi yang beredar di ruang publik serta berbagai sumber media hingga pertengahan Oktober 2026. Angka kinerja IHSG antar era pemerintahan disajikan secara komparatif dengan penyesuaian terhadap tanggal cut-off yang berbeda di masing-masing sumber. Variasi tipis pada persentase maupun level indeks dimungkinkan karena perbedaan metodologi perhitungan dan periode pengamatan.
Analisis dalam tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai penilaian politik terhadap individu atau pemerintahan tertentu. Fokus utama adalah pengamatan terhadap interaksi antara kebijakan publik, sentimen pasar modal, aliran modal asing, dan kondisi sektor riil. IHSG merupakan salah satu indikator kepercayaan pasar, bukan satu-satunya ukuran keberhasilan ekonomi.
InfoPublikID.Online terbuka terhadap klarifikasi, data tambahan, maupun hak jawab dari pihak-pihak terkait. Setiap informasi yang disampaikan kepada redaksi akan diverifikasi sesuai prinsip independensi, keterbukaan, dan berbasis data.
BACA JUGA | OPINI PENGAWASAN PUBLIK & KEBIJAKAN EKONOMI
-
Presiden yang Tidak Presidensial: Ketika Instruksi Berlimpah, tetapi Negara Dipertanyakan Kemampuannya
Menguji kesenjangan antara instruksi pusat dan kapasitas pelaksanaan, termasuk dampaknya terhadap kepercayaan pasar. -
Kemenkeu Pangkas Perjalanan Dinas 30 Persen: Pengawasan Anggaran Jadi Ujian
Pengujian disiplin fiskal dan konsistensi penghematan anggaran negara. - Semua Artikel Label Ekonomi
A. Bintang
Chief Editorial Strategist · InfoPublikID.Online
Mengulas kebijakan publik, transparansi pemerintahan, dan isu sosial-pesisir Demak melalui data, dokumen, dan fakta lapangan.
Laporkan Isu Publik & Masalah Birokrasi
Sampaikan informasi untuk ditindaklanjuti melalui verifikasi.

