79% Mengakses Berita Online, Tapi Apakah Publik Masih Percaya?

79% Mengakses Berita Online, Tapi Apakah Publik Masih Percaya?

Perspektif Edukasi InfoPublikID.Online

Di tengah derasnya arus informasi, satu hal terlihat semakin jelas: cara masyarakat memperoleh berita telah berubah.
Data Reuters Institute Digital News Report 2025 untuk Indonesia menunjukkan 79% responden mengakses berita melalui sumber online. Media sosial mencapai 57%, televisi 44%, sementara media cetak berada di angka 10%.
Angka tersebut menunjukkan kuatnya posisi ekosistem digital dalam kehidupan informasi masyarakat.

Tetapi ada satu hal yang tidak boleh dilewatkan:
tingginya akses berita tidak otomatis berarti tingginya kepercayaan terhadap berita.
79% Bukan Berarti 79% Hanya Membaca Media Online
Di sinilah publik perlu memahami cara membaca statistik.
Angka 79% bukan berarti 79% masyarakat Indonesia hanya menjadikan media online sebagai satu-satunya sumber informasi.

Kategori sumber berita tersebut dapat saling beririsan.
Seseorang bisa membaca berita dari portal online pada pagi hari, melihat potongan informasi melalui TikTok atau WhatsApp pada siang hari, kemudian menonton pemberitaan televisi pada malam hari.
Karena itu, angka 79%, 57%, 44%, dan 10% tidak boleh diperlakukan seperti pembagian kue yang harus berjumlah 100%.
Ini adalah ukuran penggunaan sumber berita, bukan pembagian eksklusif konsumen media.

Dan perbedaan sederhana ini penting.
Sebab cara kita membaca angka akan menentukan cara kita memahami kenyataan.
Media Online Besar, Tetapi Ekosistem Beritanya Sudah Berubah
Data Reuters juga menunjukkan bahwa masyarakat tidak lagi hanya berhadapan dengan “media online” dalam pengertian portal berita.
Berita sekarang bergerak melalui berbagai pintu.
WhatsApp tercatat digunakan oleh 43% responden untuk mendapatkan berita, YouTube 41%, Facebook 39%, TikTok 34%, dan Instagram 31%.
Artinya, berita tidak selalu ditemukan ketika seseorang sengaja membuka sebuah situs berita.

Berita bisa datang melalui grup WhatsApp, video YouTube, unggahan Facebook, TikTok, Instagram, mesin pencari, hingga rekomendasi algoritma.
Di sinilah tantangan baru muncul.
Publik bukan hanya harus memilih berita mana yang ingin dibaca, tetapi juga harus belajar memahami mengapa berita tertentu sampai kepada mereka.
Yang Berubah Bukan Hanya Medianya, Tetapi Cara Publik Mempercayai Informasi
Ada data lain yang tidak kalah penting.

Tingkat kepercayaan terhadap berita secara keseluruhan di Indonesia dalam laporan tersebut tercatat 39% pada 2021 dan 36% pada 2025.
Angka ini tidak berarti masyarakat berhenti membaca berita.
Justru di sinilah paradoksnya.
Orang tetap membutuhkan informasi, tetapi kebutuhan terhadap informasi tidak selalu berjalan beriringan dengan tingkat kepercayaan.

Masyarakat bisa membaca sebuah berita, membagikannya, bahkan memperdebatkannya—tanpa otomatis menganggap seluruh isinya benar.
Maka, ukuran keberhasilan sebuah informasi tidak cukup hanya dilihat dari:
berapa banyak yang membaca.
Pertanyaan berikutnya adalah:
berapa banyak yang memahami?
Dan lebih jauh:
berapa banyak yang memeriksa sebelum mempercayai atau menyebarkannya?
Dari “Viral” ke “Valid”
Inilah bagian yang menurut kami semakin penting dalam budaya informasi hari ini.
Sebuah informasi dapat memperoleh ribuan bahkan jutaan tayangan tanpa melalui proses verifikasi yang memadai.
Sebaliknya, informasi yang telah diperiksa melalui dokumen, data, pernyataan resmi, dan fakta lapangan belum tentu mendapatkan perhatian sebesar konten yang sensasional.

Di sinilah publik membutuhkan literasi media.
Bukan berarti setiap orang harus menjadi wartawan.
Tetapi setidaknya publik perlu terbiasa mengajukan beberapa pertanyaan sederhana:
Siapa yang mengatakan?
Apa buktinya?
Dari mana datanya?
Apakah ada dokumen yang mendukung?
Apakah sumber lain mengatakan hal yang sama?
Apakah informasi tersebut masih berlaku atau merupakan informasi lama yang diedarkan kembali?

Pertanyaan sederhana tersebut sering kali lebih berguna daripada sekadar melihat jumlah like, komentar, atau jumlah orang yang sudah membagikannya.
Media Juga Punya Pekerjaan Rumah
Literasi media bukan hanya tanggung jawab pembaca.
Media juga memiliki tanggung jawab terhadap kualitas informasi yang mereka distribusikan.

Ketika kecepatan menjadi tuntutan, risiko terbesar adalah informasi dipublikasikan sebelum konteksnya lengkap.
Ketika persaingan perhatian semakin keras, judul bisa menjadi semakin menarik.
Dan ketika algoritma menentukan apa yang muncul di layar pengguna, informasi yang paling menarik perhatian dapat memperoleh ruang lebih besar dibanding informasi yang paling lengkap.

Karena itu, kualitas media tidak semestinya hanya diukur dari seberapa cepat sebuah berita naik.
Ada pertanyaan yang lebih mendasar:
Apakah fakta telah diverifikasi?
Apakah konteks diberikan?
Apakah sumbernya jelas?
Apakah fakta dipisahkan dari klaim?
Dan apakah pembaca diberi ruang untuk memahami persoalan secara utuh?

Publik Bukan Sekadar Konsumen Berita
Perubahan ekosistem informasi juga mengubah posisi masyarakat.
Dulu, pembaca relatif berada di ujung rantai informasi.
Sekarang pembaca sekaligus dapat menjadi penyebar informasi.
Satu orang bisa menerima informasi melalui WhatsApp, kemudian mengunggahnya ke Facebook, membuat video TikTok, mengomentarinya di Instagram, dan akhirnya informasi tersebut kembali muncul di berbagai platform.
Dalam beberapa menit, sebuah informasi dapat berpindah jauh lebih cepat daripada proses pemeriksaan faktanya.

Karena itu, literasi digital hari ini bukan hanya kemampuan mencari informasi.
Tetapi juga kemampuan:
menilai, memeriksa, memahami konteks, dan menahan diri sebelum menyebarkan.

Prinsip membaca data secara hati-hati juga penting ketika publik berhadapan dengan informasi mengenai kebijakan dan anggaran. Memahami data di balik kebijakan publik menjadi bagian dari literasi publik agar angka tidak berhenti sebagai headline.

Angka 79% Justru Mengajarkan Kita Untuk Tidak Berhenti Pada Angka
Data Reuters Institute memberikan gambaran tentang besarnya peran sumber online dalam konsumsi berita di Indonesia.
Tetapi data tidak boleh dipaksa mengatakan lebih dari apa yang sebenarnya diukur.
79% bukan berarti semua orang hanya percaya media online.
57% bukan berarti media sosial telah menggantikan seluruh media lainnya.
44% bukan berarti televisi sudah kehilangan fungsi.
Dan 10% bukan berarti media cetak sudah tidak relevan sama sekali.
Angka adalah pintu masuk untuk memahami fenomena.
Bukan kesimpulan yang boleh dipaksakan.

Insight InfoPublikID.Online
Pada akhirnya, persoalan media hari ini bukan sekadar:
“Media mana yang paling banyak digunakan?”
Tetapi:
“Bagaimana masyarakat menentukan informasi mana yang layak dipercaya?”
Karena di era ketika berita dapat muncul dari portal media, WhatsApp, YouTube, TikTok, Instagram, televisi, bahkan AI, kemampuan memilah informasi menjadi semakin penting daripada sekadar kemampuan menemukan informasi.
Media boleh berlomba mendapatkan perhatian.
Platform boleh berlomba mendapatkan waktu pengguna.
Algoritma boleh menentukan apa yang muncul di layar.

Tetapi keputusan terakhir tetap berada pada manusia:
mau langsung percaya, mau memeriksa, atau mau menunggu sampai faktanya lebih jelas.

Dan mungkin, di tengah banjir informasi hari ini, kemampuan untuk tidak buru-buru percaya justru merupakan salah satu bentuk literasi publik yang paling penting.

Catatan Redaksi
Data dalam artikel ini merujuk pada Reuters Institute Digital News Report 2025, khususnya profil Indonesia. Angka penggunaan sumber berita merupakan data survei dan kategorinya dapat saling beririsan. Karena itu, angka tersebut tidak dimaksudkan sebagai pembagian eksklusif konsumsi media masyarakat Indonesia.

Sumber: Reuters Institute, Digital News Report 2025 – Indonesia.
A. Bintang — InfoPublikID.Online
A. Bintang Redaksi
Chief Editorial Strategist — InfoPublikID.Online
Mengulas kebijakan publik, transparansi pemerintahan, dan isu sosial-pesisir Demak. Berpegang pada verifikasi fakta, keberimbangan informasi, dan asas praduga tak bersalah.
Referensi: Dokumen resmi & sumber terverifikasi. Pedoman Media Siber →
☕
Suka dengan liputan kami? Dukung jurnalisme independen INFOPUBLIKID. Tanpa paywall, tanpa sponsor politik.
Traktir Kopi
©–2026 InfoPublikID.Online — Media Investigasi & Advokasi Publik.
Dikelola oleh Yayasan Bina Insan Modern. Seluruh hak cipta dilindungi undang-undang.