1990–2000
Desa Desa Tugu masih dikenal sebagai kampung pesisir yang hidup.
Tambak luas.
Anak-anak main di halaman.
Jalan desa belum kenal rob tahunan.
Warga hidup dari laut — dan laut belum memakan rumah mereka sendiri.
2001–2008
Air laut mulai masuk saat musim tertentu.
Awalnya dianggap “banjir biasa”.
Pemerintah datang, foto-foto, lalu pergi.
Warga masih percaya: “Ini cuma sementara.”
Tapi laut tidak pernah benar-benar surut lagi.
2009–2014
Jalan desa mulai ditinggikan sedikit demi sedikit.
Ironisnya: rumah warga ikut tenggelam karena jalan makin tinggi, sementara permukiman tetap rendah.
Sebagian keluarga mulai pindah.
Sebagian bertahan karena tidak punya pilihan.
Desa mulai kehilangan:
sawah,
tambak,
dan masa depan.
2015–2019
Air asin masuk ke rumah hampir tiap hari.
Banyak warga mulai tidur dengan lantai basah.
Perabot rusak jadi hal biasa.
Anak-anak berangkat sekolah melewati rob.
Motor mogok jadi pemandangan harian.
Sementara itu: rapat demi rapat digelar, janji demi janji diumumkan.
Tapi laut tetap masuk.
2020–2023
Desa Desa Tugu makin sering muncul di media.
Foto rumah tenggelam viral.
Video warga menerjang rob beredar di mana-mana.
Namun bagi warga: ini bukan konten.
Ini hidup mereka.
Sebagian bangunan mulai kosong.
Sebagian warga memilih menyerah pindah keluar desa.
Yang tertinggal hanya: tembok lembab, jalan rusak, dan harapan yang makin tipis.
2024–2026





0 Comments:
Posting Komentar