Wakil Ketua MPR RI menyerap aspirasi warga terkait krisis rob di Demak. Masyarakat pesisir berharap ada langkah nyata dalam penanganan banjir rob yang terus mengancam ruang hidup warga.
Persoalan banjir rob yang terus menghantui wilayah pesisir Demak akhirnya kembali mendapat sorotan tingkat nasional. Dalam agenda penyerapan aspirasi masyarakat, Wakil Ketua MPR RI mendorong adanya langkah lebih serius dalam penanganan krisis rob yang selama ini membebani warga pesisir, khususnya di Kecamatan Sayung dan sekitarnya.
Kunjungan dan dialog bersama masyarakat itu menjadi ruang bagi warga untuk menyampaikan langsung berbagai persoalan yang mereka hadapi setiap hari:
- rumah terendam,
- akses jalan rusak,
- ekonomi melemah,
- pendidikan terganggu,
- hingga ancaman hilangnya ruang hidup akibat rob yang terus meluas.
ROB DEMAK BUKAN LAGI MASALAH BIASA
Dalam beberapa tahun terakhir, rob di Demak berkembang menjadi persoalan sosial, lingkungan, dan kemanusiaan yang semakin kompleks. Warga tidak hanya menghadapi genangan air laut, tetapi juga dampak jangka panjang seperti kerusakan infrastruktur, gangguan kesehatan, penurunan kualitas hidup, hingga migrasi penduduk.
Kondisi paling berat dirasakan masyarakat pesisir Sayung yang selama bertahun-tahun hidup dalam situasi darurat berkepanjangan.
Warga berharap kehadiran pemerintah pusat tidak berhenti pada kunjungan seremonial atau peninjauan lapangan semata, tetapi benar-benar menghasilkan langkah konkret yang bisa dirasakan masyarakat.
WARGA MINTA SOLUSI NYATA, BUKAN SEKADAR WACANA
Dalam dialog tersebut, masyarakat juga menyoroti lambannya penanganan kawasan pesisir, buruknya sistem drainase, serta persoalan tata ruang yang dinilai ikut memperparah kondisi rob.
Sejumlah warga bahkan menyebut mereka mulai kehilangan kepercayaan karena terlalu sering mendengar janji penanganan, namun kondisi di lapangan tetap sama:
- jalan tetap terendam,
- irigasi tidak optimal,
- permukiman terus turun,
- dan warga dipaksa bertahan sendiri.
Bagi masyarakat pesisir, persoalan rob bukan lagi isu musiman.
Ini sudah menjadi krisis kehidupan.
DEMAK BUTUH LANGKAH LUAR BIASA
Dorongan dari tingkat pusat diharapkan mampu mempercepat:
- penanganan tanggul dan drainase,
- perlindungan kawasan pesisir,
- pemulihan akses warga,
- hingga mitigasi jangka panjang berbasis lingkungan dan keselamatan masyarakat.
Sebab jika tidak segera ditangani serius, rob di Demak bukan hanya mengancam infrastruktur — tetapi juga masa depan ribuan warga pesisir yang perlahan kehilangan tanah dan ruang hidupnya.
penting dari hasil serap aspirasi dan data BRIN:
65,8% garis pantai Pantura mengalami abrasi periode 2000–2024.
Rob di Demak disebut bukan lagi banjir biasa, tetapi “krisis struktural yang menghilangkan ruang hidup warga”.
Tahun 2026 tercatat sekitar 6.600 hektare wilayah Demak terdampak rob permanen.
Sekitar 15 ribu KK di 20 desa terdampak langsung.
Baca juga
lestari-moerdijat-banjir-rob-demak-krisis-nasional-pantura
mpr-krisis-rob-sayung-demak-harus-ditangani-sebagai-krisis-nasional
