CSR di Tengah Krisis: Solusi Nyata atau Sekadar Seremonial?

 Episode 2 : CSR di Tengah Krisis Sayung: Solusi Nyata atau Sekadar Seremonial?

Di tengah krisis rob yang terus menghantam Sayung, masyarakat pesisir sebenarnya tidak hanya bertanya soal bantuan. Mereka mulai mempertanyakan sesuatu yang lebih mendasar:
Ke mana arah tanggung jawab sosial perusahaan selama puluhan tahun ini berjalan?
Pertanyaan itu muncul bukan tanpa alasan.
Di Kecamatan Sayung, aktivitas industri terus berkembang. Jalur distribusi hidup siang malam. Kawasan industri tumbuh. Perusahaan datang dan beroperasi selama bertahun-tahun di sekitar wilayah pesisir Demak.
Namun di sisi lain, masyarakat masih hidup berdampingan dengan persoalan yang nyaris tidak berubah: rob kronis, jalan rusak, drainase buruk, penurunan tanah, tambak hilang, hingga tekanan ekonomi yang terus dirasakan warga kecil.
Di titik inilah publik mulai menyoroti Corporate Social Responsibility (CSR) atau Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan perusahaan.
Karena selama ini, masyarakat lebih sering melihat CSR hadir dalam bentuk kegiatan simbolik: pembagian bantuan, santunan, kegiatan seremoni, penanaman mangrove terbatas, atau bantuan saat bencana datang.
Pertanyaannya: apakah pola seperti itu benar-benar cukup untuk wilayah yang sedang menghadapi krisis sosial dan lingkungan berkepanjangan seperti Sayung?
Beberapa perusahaan memang tercatat memiliki program sosial.
Ada yang menyalurkan bantuan kepada warga sekitar pabrik. Ada yang membantu operasional penanganan rob. Ada yang melakukan penanaman mangrove. Ada pula yang mendukung kegiatan sosial masyarakat.
Namun publik tetap berhak bertanya lebih jauh: berapa nilai kontribusi sebenarnya? berapa lama program berjalan? siapa penerimanya? apa dampaknya bagi masyarakat? dan apakah program tersebut benar-benar menyentuh akar persoalan warga pesisir?
Karena bagi sebagian masyarakat Sayung, krisis yang mereka hadapi hari ini bukan lagi persoalan musiman.

Yg Pernah dilaksanakan : 



Rob datang hampir setiap hari. Sebagian akses jalan terus tergenang. Aktivitas ekonomi kecil menurun. Rumah-rumah mulai ditinggalkan. Dan generasi muda perlahan mulai meninggalkan wilayah pesisir karena merasa masa depannya semakin tidak pasti.
Ironisnya, di tengah kondisi itu, aktivitas industri tetap berjalan normal.
Truk logistik tetap melintas. Produksi tetap berjalan. Kawasan industri terus hidup.
Kontras inilah yang mulai memunculkan pertanyaan publik: apakah CSR selama ini benar-benar dirancang untuk pemulihan masyarakat sekitar, atau hanya menjadi formalitas administrasi dan pencitraan perusahaan?
Karena masyarakat pesisir sebenarnya tidak hanya membutuhkan bantuan sesaat.
Yang mereka butuhkan jauh lebih besar: perlindungan lingkungan, penguatan ekonomi warga, akses infrastruktur yang layak, mitigasi rob jangka panjang, serta keterlibatan nyata perusahaan dalam menjaga keberlangsungan ruang hidup masyarakat sekitar.
Publik juga mulai mempertanyakan transparansi program CSR di kawasan Sayung.
Berapa perusahaan aktif menyalurkan CSR? Berapa besar anggarannya? Desa mana yang menerima? Siapa yang menentukan program? Adakah evaluasi dampaknya?
Sebab sampai hari ini, masyarakat lebih sering melihat hasil simboliknya dibanding laporan dampak jangka panjangnya.
Padahal secara regulasi, tanggung jawab sosial perusahaan bukan sekadar kegiatan sukarela semata.
Undang-Undang Perseroan Terbatas melalui Pasal 74 mengatur bahwa perusahaan yang berkaitan dengan sumber daya alam memiliki kewajiban menjalankan tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Artinya, CSR bukan hanya soal membangun citra baik perusahaan, tetapi bagian dari tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar aktivitas usaha.
Dan di Sayung, masyarakat mulai berharap tanggung jawab itu tidak berhenti pada kegiatan seremonial tahunan.
Karena selama rob terus datang, selama ruang hidup masyarakat terus menyempit, dan selama krisis ekonomi warga pesisir belum benar-benar pulih, maka pertanyaan tentang kontribusi nyata industri akan terus muncul.
Bukan karena masyarakat anti perusahaan.
Tetapi karena masyarakat ingin memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi di Sayung tidak hanya tumbuh di balik pagar industri, sementara warga sekitar terus hidup di tengah krisis yang berkepanjangan.

Nah sekarang yang menarik bukan sekadar:
“ada CSR atau tidak.”
Tetapi:
  • seberapa besar nilainya?
  • berapa perusahaan aktif di Sayung?
  • apakah programnya jangka panjang?
  • apakah menyentuh akar persoalan?
  • apakah transparan?
  • apakah sebanding dengan dampak sosial-lingkungan yang terjadi?
  • Karena dari data awal ini mulai terlihat pola:
  • CSR di Sayung mayoritas masih dominan bantuan sosial, penghijauan terbatas, dan respons bencana.
Sementara krisis struktural:
rob,
penurunan tanah,
infrastruktur,
relokasi,
ekonomi warga, belum benar-benar terselesaikan.


Episode Berlanjut 
Red InfoPublikId 




Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama