Opini Politik Publik | InfoPublikID.OnlineBeberapa hari ini, satu angka ramai di layar TV dan linimasa: 55,3 persen. Itu hasil survei Poltracking Indonesia soal kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Survei dilakukan pada 30 September sampai 7 Oktober 2026 dan dirilis 19 Oktober 2026. Sekilas terdengar meyakinkan: lebih dari separuh rakyat puas.
Tapi angka itu perlu dibaca pelan-pelan, bukan ditelan mentah-mentah.
- 55,3% puas, tapi hanya 7,8% yang “sangat puas”.
- 40,9% tidak puas, kira-kira 4 dari 10 orang.
- Selisih puas dan tidak puas hanya sekitar 14 poin.
- Kepuasan bidang ekonomi paling rendah: 36,8%.
- Tren kepuasan stagnan dibanding survei Agustus 2026 (55,1%).
Lihat rinciannya, bukan judulnya
Dari 55,3 persen yang puas, hanya 7,8 persen yang “sangat puas”. Sisanya, 47,5 persen, “cukup puas”. Artinya, pendukung yang benar-benar antusias itu tipis. Di sisi lain, 40,9 persen menyatakan tidak puas. Selisihnya dengan yang puas sekitar 14 poin, bukan angka yang bisa disebut “rakyat bulat mendukung”.
| Jawaban responden | Persentase | Perkiraan orang* |
|---|---|---|
| Sangat puas | 7,8% | ± 95 |
| Cukup puas | 47,5% | ± 580 |
| Kurang puas | 36,0% | ± 439 |
| Sangat tidak puas | 4,9% | ± 60 |
| Tidak tahu / tidak menjawab | 3,8% | ± 46 |
*Perkiraan dihitung dari sekitar 1.220 responden. Sumber persentase: paparan survei Poltracking Indonesia yang ditayangkan Metro TV.
Dalam pemberitaan hasil survei ini juga disebut, kepuasan di bidang ekonomi paling rendah, yaitu 36,8 persen. Alasan utama yang tidak puas: ekonomi belum stabil, harga kebutuhan pokok mahal, dan bantuan tidak tepat sasaran. Itu urusan dapur, bukan sekadar angka di atas kertas. Poltracking sendiri mencatat tren kepuasan stagnan: tidak naik, tidak turun.
Soal “cuma 1.220 orang dari 285 juta”
Ini yang sering dipakai untuk menyerang survei, dan kita harus jujur: jumlah segitu lazim untuk survei nasional. Yang menentukan bukan jumlahnya, tapi cara memilih respondennya. Kalau dipilih acak dan merata, sekitar seribu lebih responden cukup untuk memotret gambaran nasional, dengan batas kesalahan (margin of error) beberapa persen.
- Siapa yang membiayai survei ini?
- Respondennya dipilih dengan cara apa, dan diwawancara bagaimana (tatap muka atau telepon)?
- Seperti apa persisnya bunyi pertanyaannya?
- Berapa margin of error yang tertulis?
Lembaga survei yang baik biasanya terbuka soal ini. Kalau tidak dijelaskan, wajar kalau kita bertanya.
Rata-rata bisa menutupi yang di pinggir
Survei nasional menghitung rata-rata satu Indonesia. Warga yang menanggung harga pangan naik, keluarga yang anaknya terdampak program, atau kampung yang menghadapi masalah kesehatan dan lingkungan bisa tenggelam di balik angka rata-rata. Bukan berarti survei itu salah, tapi angka nasional tidak otomatis mewakili apa yang terjadi di kampung kita sendiri. Karena itu, hasil survei perlu dicocokkan dengan data lapangan dan pengalaman warga.
Beberapa lembaga lain juga mendapat angka kepuasan di kisaran 50 sampai 60 persen, jadi 55 persen bukan angka yang janggal. Yang perlu dijaga adalah cara kita memaknainya: mayoritas tipis dengan dukungan yang tidak terlalu kuat, bukan cek kosong.
5 cara membaca survei dengan kritis
- Jangan berhenti di judul. Lihat rincian “sangat puas” dan “cukup puas”.
- Perhatikan sisi yang tidak puas, jangan hanya mayoritasnya.
- Cek siapa pembuat dan pembiayanya.
- Bandingkan dengan survei lembaga lain.
- Cocokkan dengan kenyataan di sekitar kita: harga, layanan, dan program yang kita rasakan langsung.
Survei adalah alat bantu, bukan hakim yang memutuskan. Angka 55 persen boleh dijadikan modal oleh pemerintah untuk memperbaiki kinerja, tetapi 40,9 persen yang tidak puas juga bukan angka kecil untuk diabaikan.
Masyarakat yang melek membaca survei tidak mudah dibuai angka besar dan tidak mudah juga termakan angka kecil. Yang kita butuhkan adalah kebiasaan bertanya: angka ini dari mana, dibuat untuk siapa, dan apa artinya bagi hidup kita?
Tanya jawab singkat
Apakah survei dengan sekitar 1.220 responden bisa mewakili Indonesia?
Bisa, asalkan respondennya dipilih acak dan tersebar merata. Yang perlu dicek adalah metodenya dan margin of error, bukan hanya jumlahnya.
Kenapa “sangat puas” penting dilihat?
Karena menunjukkan seberapa kuat dukungannya. Di survei ini, “sangat puas” hanya 7,8 persen, sebagian besar yang puas masuk kategori “cukup puas”.
Apakah 55,3 persen berarti pemerintah dinilai berhasil di semua bidang?
Tidak. Itu penilaian umum. Pada bidang ekonomi, kepuasan hanya 36,8 persen menurut pemberitaan hasil survei ini.
Bagaimana cara warga memeriksa survei yang beredar?
Cari tahu pembuat dan pembiayanya, metode wawancara, bunyi pertanyaan, dan margin of error, lalu bandingkan dengan survei lain.
Sumber: Investortrust, ANTARA, Metro TV, JPNN.
Tulisan ini adalah Opini Tim redaksi InfoPublikID.Online untuk literasi publik.
Mengulas kebijakan publik, transparansi pemerintahan, dan isu sosial-pesisir Demak melalui data, dokumen, dan fakta lapangan.
